"Dalam kesenangan, cacat itu akan menghampirimu. Dan dalam kesusahanmu, cacat itu akan menghilang. Sungguh sebuah kecacatan sejati"
Pertama kali mendengar pepatah kuno Cina ini, aku langsung terdiam. Seperti biasa, seperti bongkahan besi karat yang tersusun rapih dalam sebuah skematik jaringan mesin yang rumit, besi-besi karat itu mulai beputar. Terus berputar semakin cepat yang dengan perputarannya, membuatku menjauh dari riuh rendah sekeliling yang penuh warna.
Semakin menjauh…. hingga tak ada lagi keriuhan yang tedengar, hanya derak besi berkarat itu saja yang berbunyi lambat.
Cacat.
Ada apa dengan cacat? Ada apa dengan manusia? Ada apa dengan cacat manusia? Manusia diciptakan dengan rasa. Adalah sebuah hal yang wajar jika manusia menginginkan rasa yang menyenangkannya. Aku rasa tidak ada manusia yang tertarik untuk berasyik masyuk dengan seiris kesusahan. Kesenangan, sungguh telah menjadi seperti sebuah permen manis basah yang tergeletak di lantai yang dengan cepat diburu dan diperebutkan oleh kawanan semut. Begitupula manusia, dimana ada kesenangan, disanalah mereka berkumpul. Dimana ada yang membawa kesenangan, dengan amat segera dan tergesa-gesa akan merangsek mendapatkan tempat terdekat dengannya. Selama itu memberi kesenangan pula baginya, selama itu pula ia akan bertengger manis di samping kesenangannya.
Tapi, apa yang terjadi bila kesenangan telah hilang? Apalagi ia telah berubah diri menjadi kesusahan? Tak ayal, seperti burung bangkai yang kekenyangan, mereka akan pergi tanpa sapa, lenyap ke angkasa sambil mengepakkan sayap dengan ringan. Dan kini yang tersisa, hanyalah seonggok tulang yang terkapar tergeletak di tanah.
Teman, seperti itulah cacat. Ia yang dengan kecacatannya, dengan muka manis akan menggeliat manja mendekat. Dan tatkala kesenanganmu telah tergeletak tanpa rasa, cacat itu akan menghilang tanpa menoleh kiri dan kanan.
Diam.
Aku kembali ke dalam sadarku. Aku kembali ke dalam diamku. Perputaran besi karat itu kini telah sempurna. Seperti proyektor yang menyala, menyajikan sorotan dunia dengan gamblang dan apik. Aku terheran-heran, ternyata begitu banyak cacat-cacat yang berjalan di sekelilingku. Begitu menakjubkan… begitu mencengangkan… begitu… memuakkan!
Comment Wall (22 comments)
You need to be a member of SMPN 41 to add comments!
Join this Ning Network
hahahah....gak pemasaran pak..??
anak mana istri mu zul??apa anak smp 41 juga??
dzul mana ym mu..besok reunian kamu datang ya..
kerja d mana sekarang dzul..?
wah udah nikah neh, gw ketinggalan berita neh
anw, selamat yaa...semoga jadi pasangan yang sakinah mawadah warohmah
ditunggu nanti kabar2 berikutnya....
View All Comments